Pilkada dilihat dari tinjauan yang pesimistik Pilkada akan membawa Indonesia dalam kehancuran ? Pemilih adalah orang cerdas yang berpikir buat apa buang-buang waktu untuk ikut kampanye atau memilih jika kehidupan ekonominya lebih sulit ( data empirik : tingkat pencoblosan 50% - 70% dari angka pemilih ) ; Pilkada belum tentu menghasilkan pemimpin yang dapat memerintah secara efektif ( BBM langka, listrik sulit, kebutuhan pokok naik, pekerjaan sulit, sekolah mahal ) ; Kandidat calon tidak ditentukan oleh peran partai, tetapi pada figur yang mungkin populer ? Konflik elite partai dan intrik politik seringkali terjadi yang terkadang menimbulkan konflik sosial dan pertentangan ? yang semuanya membuat pilkada berantakan ?
Pilkada dilihat dari tinjauan yang optimistik
Partisipasi pemilih yang rendah dalam pilkada bukan indikator berhentinya proses demokrasi ( contoh : AS, 50%-60% pemilih yang datang ke tempat pencoblosan Presiden, tapi pemimpin yang terpilih dapat memerintah dengan efektif ) à mungkin saja karena faktor logistik atau kurangnya sosialisasi, bukan karena kesadaran/apatisme masyarakat atau indikasi mosi tidak percaya ; Kalau figur kandidat lebih menentukan daripada parpol itu berarti calon pemimpin dalam demokrasi datang lebih luas daripada hanya sekedar kader parpol, yang sekaligus bagi parpol dapat membuka diri bagi tokoh independen ; Tidak perlu ada kekhawatiran jika nantinya kepala daerah akan menjadi tawanan DPRD hanya karena dicalonkan dari partai kecil, karena amanat konstitusi kita mendudukkan posisi ‘chek and balance’ antara eksekutif dan legislatif, justru hal ini akan menajamkan posisi itu dalam menghindari proses KKN ; Jika saat ini terjadi intrik dan konflik politik di kalangan partai politik, ini adalah hal yang lumrah dalam masa transisi menuju kematangan politik rakyat, tidak ada lagi dominasi, karena akan banyak intrik jika ternyata salah ; Jadi : “ Tidak Ada Masalah dengan Pilkada Saat Ini “, semua kekurangan yang ada jangan dijadikan alasan untuk membunuh karakter demokrasi. Tanpa demokrasi bangsa ini akan semakin terpuruk.
“ Perdebatan, saling bantah, warna kegembiraan dan kesedihan, optimisme dan pesimisme publik atas pilkada adalah perbedaan respons yang biasa bagi sebuah bangsa yang baru pertama kali mempraktekkan pemilihan langsung “