
Dalam rangka menyambut HUT Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia ke 61, di mana-mana mulai dari ibukota propinsi sampai dengan di daerah pedesaan terlihat warna warni gemerlap lampu dan umbul-umbul sebagai tanda suka cita segenap warga negara menyambut perayaan 17 agustus
Suasana Kantor Gubernur Jawa Timur di waktu malam menjelang 17 Agustus 2006, penuh warna dan gemerlapSudah saatnya kita meninjau kembali formulasi Peringatan Hari Kemerdekaan, termasuk juga hari-hari bersejarah lainnya, mencari yang lebih esensial dan bukan sekadar mengedepankan sensasinya. Dan yang lebih penting lagi, bagaimana kita menanamkan rasa kebangsaan, rasa bangga menjadi warga bangsa Indonesia, dan rasa cinta tanah-air kepada generasi muda. Maka, apakah kita masih memilih dan meyakini kemujaraban: lomba makan kerupuk? Ataukah membangun ACI (Aku Cinta Indonesia) dan ABI (Aku Bangga Indonesia) sebagai Nation dan Character building ....................Merdeka!*
Pilkada dilihat dari tinjauan yang pesimistik
Permasalahan yang dihadapi negara transisi (termasuk Indonesia) adalah waktu untuk menyusun pranata-pranata demokrasi seringkali begitu pendek sehingga para penggerak pro demokrasi harus secepat mungkin meruntuhkan pranata lama yang otoriter sembari membangun pranata demokratis yang baru. Dan hal ini bukanlah pekerjaan mudah dan singkat, bahkan mungkin berkepanjangan (protracted transition countries / negara transisi berkepanjangan). Banyak tantangan yang dihadapi, oleh karena itu dibutuhkan dukungan penuh dari pegiat pro demokrasi untuk meruntuhkan aturan main lama dan sekaligus membangun aturan main yang baru dengan membangun pranata maupun pengisian substansi demokrasi melalui sosialisasi kultur demokrasi. Proses demokratisasi yang ideal adalah membangun konstruksi/pranata demokrasi dan mengisinya dengan berbagai substansi demokrasi. Sedangkan demokratisasi yang terjadi saat ini kecenderungannya adalah membangun ruang demokrasi di antara konstruksi/pranata otoriter (Kevin Hewison). Jadi demokrasi tidak pernah merupakan suatu kondisi ideal yang permanen, tetapi harus diperjuangkan, dipelihara dan dipertahankan.